“KEBANGKITAN-NYA MENGHIDUPKAN”

Pekan Suci tersebut dimulai dengan perayaan Minggu Palem yang bermakna sukacita dan harapan, yang merefleksikan kisah perjalanan Yesus ke kota Yerusalem dengan menunggang seekor keledai dan disambut oleh warga kota dengan lambaian daun palem bagai seorang raja yang datang memasuki ibukota kerajaannya dan disambut oleh rakyatnya dengan penuh sukacita.

Adalah cinta kasih yang sejati dari Yesus yang mendasari perayaan Kamis yang bermakna kasih dan pelayanan, yang merefleksikan kisah Yesus membasuh atau mencuci kaki dari 12 (dua belas) murid-Nya. Bagai seorang hamba dan pelayan yang mencuci kaki tuannya, Yesus memberikan pelayanan ini kepada murid-murid-Nya. Dilanjutkan dengan acara “Perjamuan Terakhir” atau makan malam terakhir dari Yesus bersama murid-murid-Nya. Dimana Yesus mengambil roti tidak beragi kemudian memecah-mecah roti tersebut dan membagikannya kepada ke-12 murid, sebagai lambang dari tubuh Yesus yang tidak berdosa, namun harus dikorbankan untuk menebus dosa umat manusia. Kemudian Yesus menuangkan anggur kedalam cawan untuk dibagikan kepada ke-12 murid, sebagai lambang dari darah Yesus yang harus dicurahkan untuk menebus dosa umat manusia.

Setelah itu pada hari Jumat yang bermakna penderitaan dan pengorbanan, yang merefleksikan kisah Yesus yang dihadapkan dalam pengadilan yang penuh dengan konflik dan intrik atas tuduhan yang penuh rekayasa. Bagai seorang penjahat kriminal yang menjadi sampah masyarakat dan pemberontak yang menjadi musuh negara, Yesus harus menderita dengan siksaan badani sebelum akhirnya harus menjalani hukuman mati dengan cara disalibkan bersama para penjahat di sisi kiri dan kanan salib Yesus.

Kemudian pada sepanjang hari Sabat, hari yang disucikan Tuhan bagi umat manusia untuk beristirahat dan mengingat Sang Khalik Langit dan Bumi, sejak pembukaan Sabat pada hari Jumat petang sampai dengan penutupan Sabat pada hari Sabtu petang, Yesus pun beristirahat didalam perut bumi.

Setelah mengalami penderitaan dan menyerahkan nyawa-Nya di kayu salib, tubuh Yesus pun diturunkan dan dilepaskan dari kayu salib untuk dibersihkan dan dikuburkan kedalam gua yang dijaga oleh para prajurit Romawi.

Akhirnya pada hari Minggu pagi, Yesus pun bangkit dari antara orang mati dan meninggalkan kubur yang kosong. Umat Katolik dan Kristen merayakan peristiwa tersebut melalui perayaan Minggu Paskah. Makna kemenangan itu direfleksikan dengan kemenangan dari Yesus dalam mengalahkan alam maut yaitu bangkit dari kematian, sedangkan makna harapan direfleksikan dengan adanya harapan terhadap kedatangan Yesus yang kedua kali untuk menyelamatkan umatNya.

SMP Strada Santo Fransiskus Xaverius III mengambil tema “Kebangkitan-Nya yang Menghidupkan’. Harapan yang terkandung dalam tema tersebut adalah seluruh siswa maupun guru karyawan di SMP Strada Santo Fransiskus Xaverius III sungguh dapat menghidupkan iman kristiani sesuai dengan yang tertuang dalam 5 nilai dasar perkumpulan Strada dalam hidup sehari-hari.

Perayaan Paskah di sekolah kami dilaksanakan pada hari Kamis, 19 April 2018. Acara Paskah bersama ini terbagi menjadi  dua bagian yakni kegiatan yang menghidupkan kreatifitas dalam perlombaan menghias telur Paskah dan juga membuat sebuah gambar yang bertemakan Paskah. Kemudian perayaan Paskah dilanjutkan dengan ibadat Paskah yang dipimpin oleh Fr. Reginald Mozzeta Januardy, Pr atau biasa yang disapa dengan Fr. Regi. Dalam khotbahnya Fr. Regi berpesan untuk “memperbaiki diri yang lama yang penuh dengan dosa untuk menjadi manusia baru yang telah dibangkitkan bersama dengan Tuhan Yesus

                 

 

 

 

 

 

SELAMAT PASKAH 2018

TUHAN YESUS MEMBERKATI KITA SEMUA

Sebarkan artikel ini